3

Pamrih

Sebuah quote dari antah berantah yang selalu saya percaya sejak dulu. Hingga akhirnya saya menyadari perspektif lain dari kalimat itu.

“Pamrih! Pamrih! Pamrih!”

Sadar atau tidak kita selalu melakukan hal baik agar orang juga belaku baik pada kita. Ya itu adalah hal yang aku yakini betul sejak masih remaja hingga menuju keremajaan yang abadi (yes, I’m immortal).

Quote itu membuatku menuntut agar diperlakukan sama seperti aku memperlakukan orang. Aku berlaku baik sebisa mungkin terhadap orang lain, hingga suatu hari hal baik tidak datang, justru sebaliknya!

Nasib : Kecewa?

me : iya!!

Nasib : Sedih?

me : Pasti!

Nasib : Merasa tidak dihargai?

me : Jangan tanya lagi!!

Nasib : Sukurin! Bodoh sih!

Karena quote manis itu aku berusaha mencari kesalahan dalam diri ini. “mungkin aku yang salah hingga diperlakukan seperti itu”. Sampai akhirnya aku lelah sendiri, dan terlalu menyalahkan diri sendiri juga tidak akan membantu apapun, yang ada hanyalah rasa tidak puas pada diri sendiri, dan penyesalan akan hal abstrak –hal yang tidak jelas-

“ya aku emang payah aja! mau apa lagi? Terima sajalah!” – Berusaha berdamai dengan diri sendiri.

Mungkin aku lupa dalam berlaku baik harusnya tidak pernah mengharapkan apapun. Kita tidak harus menjadi buruk untuk mendapatkan cobaan atau perlakukan buruk. Mungkin memang sudah saatnya menjalani ini.

“Lakukan hal baik karena kamu memang yakin itu adalah hal yang tepat! lalu ikhlaskan!” jika dunia berjalan tak sesuai dengan harapan?. Baca kembali paragraph akhir hingga jadi mantra.

Iklan
3

Catatan kecil itu perlu.

Notes

Sebelum menulis blog ini aku cukup sering kecipratan ide ide nulis blog waktu di tengah jalan, tapi gara-gara kondisi ingatanku yang mirip jajan pasar alias nggak tahan lama akhirnya idenya cuman menguap deh di atas kepala. Tapi meskipun nggak ada ide tetep bisa nulis blog ini sih, eh tapi ini kan termasuk ide (halah mbulet).

Jadi gini ceritanya gara-gara ide yang sering nguap itu aku berinisiatif beli notes kecil, sebelumnya notesku gede-gede kayak buku tulis gitu, (maklum buat nyoret-nyoet tugas kantor) nah giliran di tengah jalan ada ide aku langsung ngelurain notesku dan nulis, cuman kok nggak efektif ya di tengah jalan ubek-ubek tas cari bolpoin. Akhirnya aku berpindah ke notes hape, cukup simple sih cuman penuh resiko.

soalnya menurut pengalamanku aku ketika berhenti di tengah jalan aku kecetus ide buru-buru ngelurain hape eh hapenya jatuh dan mecotot bak mozaik yang harus di rangkai.

Sampil pasang wajah panik imut aku langsung turun dari motor dan mengambil batrai, hape dan kartu memori kemudaian sambil melihat timer lampu merah aku cepet-cepet nyusun tuh hape sampe hidup dan wataaaa~~ tadi ideku apa ya. sambil di liatin orang di jalan  aku cuman bisa nutup kaca helm dengan wajah malu.

Balik lagi ke notes, ternyata notes kecil juga nggak efektif yang efektif itu kalau kita lagi dibonceng pacar terus kecetus ide pasti nggak bingung nulisnya gimana, tapi ngomongin pacar kayaknya nggak berlaku buatku *sobekin notes penuh dramatis*