1

PASTI

Menanti yang tidak pasti itu getir, berjalan tanpa arah tujuan yang jelas. Tapi yang lebih menyakitkan adalah menjalani sesuatu yang sudah pasti. Pasti tidak bisa bersama.

Menunggu keajaiban-keajaiban yang terjadi. Berharap pada kemungkinan-kemungkinan akan bersama. meski pada akhirnya tahu kemungkinan yang pasti itu adalah perpisahan.

Bagi mereka sang pejuang, tak masalah menjalani keindahan yang akan hidup dalam ingatannya sepanjang waktu.

Menurutku mereka adalah orang yang kuat, terlampau kuat karena cinta itu sendiri. Mampu menantang gravitasi perpisahan. Terbang kemanapun meski pada akhirnya mereka akan jatuh juga.

Mengukir ingatan yang tidak akan bisa hilang sekalipun di gores berkali-kali oleh kenyataan.

Ya, mereka orang yang kuat. Terlampau kuat hingga akhirnya mereka sadar apa yang mereka perjuangkan tidaklah berbuah hasil. Keajaiban itu tidak datang, ah lebih tepatnya tidak berpihak pada mereka.

Tapi yang tersulit dari perpisahan adalah merelakan. Merelakan yang indah itu hanya untuk dikenang saja, dan dibayangi segala hal baik yang tidak bisa berujung manis tanpa ada lagi perjuangan yang melelahkan.

Bahagia berdua tidaklah indah bila harus menyakiti banyak pihak. Betul begitu?

hingga pada akhirnya masih ada sisa dari perjuangan itu, perjuangan untuk ikhlas. dan hanya menyimpan yang lalu sebagai pelajaran (?)

Semoga kamu semua yang sedang berjuang pada satu kepastian yang manis, bukan sebaliknya.

Iklan
7

Udah boleh bilang kangen banget?

Aku rindu pada deratan meja yang membentuk kotak dengan celetukan ringan dari penghuni di kanan kirinya

Aku rindu sapaan hangat dari teman atau rekan jauhku, yang punya deadline menggila di beberapa sudut ruangan ini

Aku rindu mendengarkan kisah melankolis atau hiperbola dari beberapa rekan segilaku

Aku juga rindu sakit hatinya di PHP Manager Artis di saat waktu masih kekeh berlari.

 

Hm.. baru beberapa minggu aku meninggalkan kantorku yang punya jam kerja asik tapi kampret itu hehe, tapi rindunya sudah kerasa saja.

Yah, kadang ketika kita ada di dunia baru pasti akan merasakan dunia lama.. dan ketika dunia baru itu membentuk kenangan menjadi dunia lama, kita pasti akan merindukannya. Yah, seperti saat ini aku rindu dunia lamaku.

Aku seorang wanita berumur 20 tahun (kapan hari yang lalu) dengan embel-embel “mahasiswa” yang menuntut ilmu dan menuntut pemberian gelar SE di salah satu kampus swasta di Surabaya.

Umurku memang baru saja genap, tapi aku merasa sudah genap lebih dulu dari tanggalku hehe. ya ketika umurku belum genap 20 aku adalah seorang gadis yang menuntut gaji di salah satu perusahaan yang (cukup) besar namanya. Masuk dan menjalani kehidupan baru di sana memang nggak mudah, aku harus bersosialisasi lagi dengan orang baru, dengan deadline baru, dan juga dengan suasana dan segalanya yang serba baru.

Di sana aku juga memiliki teman baru yang memiliki usia tak jauh-jauh amat dari aku, dengan gelar Mahasiswanya juga kita sama-sama menuntut ilmu sekaligus gaji disini, aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari keluraga besar tempatku bekerja. Meskipun umur kami sudah tidak bisa dibilang remaja tapi kelakuan kami seperti anak-anak smp-sma yang masih suka dibilang remaja. Ya kami memang harus menjiwai sebagai remaja. Karena kami bekerja untuk mereka, para remaja.

Hidup dengan kekangan waktu kuliah dan kerja sungguh hal yang sulit, aku harus gulung kuming untuk tetap mempertahankan IP 3 dan juga harus tetap mempertahankan deadline kerjaan yang begitu mempesona. Yap sangat mempesona capeknya hehe.

Menyesal? Tidak karena ini pilihan. Aku beruntung bisa mendapatkan teman baru disini, teman yang aku kenal bukan dari circle kampus atau teman rumahku. Kita adalah tim yang suka duka dibagi bersama. Ya jika yang lainnya dari teman berujung pacar kalau aku dan mereka, dari teman berujung keluarga hehe.

Aku masih ingat kadang kami para wanita yang tak tahu jam malam bercengkrama sambil ngedumel ngomongin hal-hal gak jelas di beberapa titik pujasera kantor. Entah membicarakan lelucon, keluhan, atau maslah cinta-cintaan yang tahiknya minta ampun. Ya, kami adalah para penulis yang terkena kutukan jomblo haha, hina rasanya membayangkan sekumpulan wanita jomblo yang selalu membicarakan kerjaan kuliah atau organisasi. Tapi nggak papa kami masih punya alasan untuk memikirkan sesuatu. Meskipun jomblo. Huahaha

Setidaknya kami cukup terhormat menjadi jomblo karena setiap malam minggu nggak pernah sendirian. Sebab, deadline kantor masih menunggu meskipun saat weekend. Kalaupun seusai layout malam minggu kami nggak pernah galau, karena ada mas-mas pujas yang masih setia memberikan kita makan. Kalau nggak gitu ya kita ngerumpi hore di mbah jenggot samping kantor kami (meskipun harus menunggu tanggal muda dulu)

Entahlah waktu 8 bulan yang menurutku cukup lama terasa sebentar. Meskipun mungkin waktu 8 bulan memang bukan waktu yang lama untuk bisa mendalami semua ilmu disana, tapi dengan sejumput kecil pengalaman berhargaku disana bisa membukakan aku menjumput pengalaman-pengalaman lainnya di dunia baru.

Semoga kalian yang disana tetap keren, gila, dan jomblo seperti dulu :’))

usai final DBL 2013 East Java Series North Region

syukuran bareng papa tercinta :’))

suasana kantor yang menyenangkan hihi :’*

terimakasih ya untuk bekalnya :”)