3

Catatan kecil itu perlu.

Notes

Sebelum menulis blog ini aku cukup sering kecipratan ide ide nulis blog waktu di tengah jalan, tapi gara-gara kondisi ingatanku yang mirip jajan pasar alias nggak tahan lama akhirnya idenya cuman menguap deh di atas kepala. Tapi meskipun nggak ada ide tetep bisa nulis blog ini sih, eh tapi ini kan termasuk ide (halah mbulet).

Jadi gini ceritanya gara-gara ide yang sering nguap itu aku berinisiatif beli notes kecil, sebelumnya notesku gede-gede kayak buku tulis gitu, (maklum buat nyoret-nyoet tugas kantor) nah giliran di tengah jalan ada ide aku langsung ngelurain notesku dan nulis, cuman kok nggak efektif ya di tengah jalan ubek-ubek tas cari bolpoin. Akhirnya aku berpindah ke notes hape, cukup simple sih cuman penuh resiko.

soalnya menurut pengalamanku aku ketika berhenti di tengah jalan aku kecetus ide buru-buru ngelurain hape eh hapenya jatuh dan mecotot bak mozaik yang harus di rangkai.

Sampil pasang wajah panik imut aku langsung turun dari motor dan mengambil batrai, hape dan kartu memori kemudaian sambil melihat timer lampu merah aku cepet-cepet nyusun tuh hape sampe hidup dan wataaaa~~ tadi ideku apa ya. sambil di liatin orang di jalan  aku cuman bisa nutup kaca helm dengan wajah malu.

Balik lagi ke notes, ternyata notes kecil juga nggak efektif yang efektif itu kalau kita lagi dibonceng pacar terus kecetus ide pasti nggak bingung nulisnya gimana, tapi ngomongin pacar kayaknya nggak berlaku buatku *sobekin notes penuh dramatis*

2

99 Detik

99, 99, 99 aku tak mengerti kenapa timer traffic light ini tak berubah-berubah, aku mulai berfikir apakah ada kesalahan pada mesinnya atau otakku yang bermasalah?.

tiga detik setelahnya, akhirnya timer itu menunjukan anggka yang lebih minim menuju anggka satu yang nantinya akan memberangkatkan kita, para penghuni jalanan.

Kusapu pandangganku dari timer itu ke sekelilingku, mencoba mengamati ekspresi setiap pengendara yang sedang bosan (mungkin) menunggu lampu merah berganti hijau. Aku melihat laki-laki separuh baya di ujung jalan itu, sepertinya dia sudah menikah. namun yang membuatku memandanginya bukan karena dia sudah menikah atau belum, tapi karena wajah dan ekspresi lelah bercampur gundahnya yang membuatku menerka-nerka apakah yang sedang di pikirkannya. Apakah dia telah di marahi atasannya dan ingin bunuh diri secepatnya? Atau dia tengah gundah karena belum bisa membelikan mainan untuk anaknya? ah.. aku tidak paham, namun aku ingin sekali mengajaknya berbagi beban, tapi sayang 99 detik tak kan bisa meluapkan segala gundahnya.

“iya pak saya kesana” pandanganku teralihkan oleh suara itu, suara tegas yang berasal dari samping kiri posisiku, yah, aku melihak tiga orang laki-laki tua di dalam pick up dengan ngos-ngosan mengusap keringat yang menerobos dari kulit coklatnya. Sambil menunggu 99 detik itu dia habiskan menerima panggilan telfon dari orang yang sepertinya penting, kedua orang di sampingnya tampak khawatir melihat temannya menerima telfon. Apakah terjadi masalah? Entahlah, aku hanya menebak mungkin terjadi kesalahan sebelum mereka mendarat di tempat penantian ini.

Tak juah dari posisiku, aku menemukan satu ekspresi yang begitu sedih. Iya, dia menangis. wanita yang sepertinya memiliki umur yang sama denganku ini terlihat begitu menderita, seperti ada tekanan batin yang membuatnya menitihkan air mata di jalan yang ramai ini, apakah dia sengaja meredam suara tangisnya di antara rong-rongan kendaraan? Ataukah dia memang sudah tidak bisa menahan air matanya untuk keluar? ada apa dengannya? Apakah ada kerabatnya yang meninggal? atau ada keputusan yang membuatnya menderita? 99 detik ini membutaku menilai berbagai beban yang mungkin di bopong oleh beberapa orang tersebut, hingga aku kembali bercermin kepada diriku sendiri dan berusaha menghibur diri bahwa bukan hanya aku yang memiliki beban di dunia ini.