6

#KadoMerdeka Untuk Indonesia Dan Pelajar Putus Sekolah

Upacara bendera sekolah

Sudah dua tahun ini aku putus sekolah.. bukan karena aku malas sekolah atau aku bodoh, secara akademis aku cukup lumayan walau hanya mendapat peringkat 15 besar dari 36 peringkat di kelas. Tapi karena keterbatasan ekonomi yang harus aku akui miskin.

Aku adalah satu-satunya anak laki-laki dari 3 bersaudara, kakak perempuanku putus sekolah juga sama sepertiku, dan adikku masih kelas 5 SD

Meskipun indonesia telah merdeka, tapi aku sebagai bangsa indonesia belum merdeka dalam berpendidikan. Ada banyak hal yang ingin aku pelajari lagi di lingkungan Sekolah Menengah Atas.

Saat ibu bilang “Ahmat, ibu dan ayah tidak bisa menyekolahkanmu lagi, kami tidak sanggup membiayai sekolahmu”

Hatiku bagaikan tekoyak koyak rasanya. Melihat teman-temanku yang bingung memilih sekolah dan berbahagia akan memeakai baju baru, tas baru dan semua serba baru. Dan aku hanya bisa mengais riski membantu ayah, ibu, kakak untuk melunasi hutang dan biaya kehidupan sehari-hari. Di rumah kami hanya rini yang bersekolah dia masih SD dan aku berharap dia bisa meneruskan pendidikannya setinggi mungkin seperti halnya cita-citanya ingin menjadi guru.

Sudah 3 hari aku mogok bicara, aku marah kepada ayah dan ibu! Ini adalah kewajiban mereka menyekolahkanku! Untuk apa melahirkanku kalau hanya di peras tenaganya untuk melunasi hutang mereka! Pikiran setan itu menggerogotiku selama dua minggu. Suatu malam aku mendengarkan ibu berdoa sambil menangis saat shalat tahajud

“maafkan aku ya Allah. aku tidak bisa mensejahterakan keinginan anakku lagi untuk bersekolah, betapa sangat ingin aku memasukan ia ke Sekolah lagi. Tapi apa daya sekolah sangat mahal dan hambamu yang nista ini tak sanggup tuk membayarnya, maafkan ibu dan ayah nak. Ampuni hambamu ini ya Allah”

Saat itu aku sontak ikut menangis betapa jahatnya aku memaki orang tuaku, Aku merasa bersalah teramat sangat kepada orang tuaku. Sejak hari itu aku pergi mencari kerja, dan alhamdulilah aku diterima sebagai buruh kuli angkut toko peralatan bangunan di tempat ayah bekerja bekerja.

Dengan tamatan SMP aku bekerja se adanya dan menerima keadaan ini secara ikhlas. Aku menjauhkan diri dari teman-teman sebayaku, aku malu dan iri pada mereka!

Suatu saat ada teman SMA kakak kerumah, dia terus bertanya kenapa kakakku tidak sekolah lagi? Dan itu membuat kakakku merasa kikuk menjawabnya.

Kakakku lebih tinggi pendidikannya dibanding aku dia putus sekolah saat SMA kelas dua, karena waktu itu kami harus meninggalkan rumah mantan bos ayah. Keluargaku dulu tinggal dirumah bos ayahku. Karena bos ayah meninggal kami pun juga angkat kaki dari rumah beliau, sejak itu keuangan keluarga kami merosot tajam sehingga kakak harus putus sekolah dan membantu ibu dan ayah. Kadang aku ingin menangis melihat keinginan kakak bersekolah sama halnya denganku.

Negeri ini memang kejam! INDONESIA sudah merdeka. Tapi kami?? Tetap dijajah oleh perekonomian!

Dua tahun sudah aku bekerja, dan kesempatan emas itu datang padaku! Aku melihat iklan diTV bahwasanya ada sekolahan gartis dengan kualitas bagus dan siap meluluskan murid siap kerja. “SMK” kata artis iklan itu, sangat asing ditelingaku! SMK sekolah apa itu? Aku langsung pergi ke rumah temanku untuk bertanya-tanya tentang sekolah asing itu. dan temanku banyak memberi masukan sehingga aku termotivasi untuk sekolah lagi. Aku pulang sambil membawa sebukit harapan di izikan sekolah, dan Allah memang baik. Aku di izinkan sekolah tapi ayah dan ibu angkat tangan dalam hal biaya persekolahan karena mereka masih mengurusi rini adik perempuanku. Dengan modal nekat aku daftar sendiri dan mengurusi semua sendiri! Untuk beberapa kemungkinan ada biaya-biaya tak terduga aku sekolah sambil bekerja. benar-benar ajaib di zaman yang serba berbayar ini ada yang gratis! Buku-buku bisa aku pinjam di perpustakaan, Hanya seragam saja yang tak gratis, dengan bantuan teman-temanku yang peduli padaku mereka memberikan celana SMA bekasnya. Dan bukan main “PAS!”. Baju seragam, aku pakai bekas kakakku yang masih bagus. Betapa pemurahnya tuhan padaku dan seberapa mulianya negeri ini di tengan keputus asaanku sekolah munculah keajaiban. Meski banyak tudingan koruptor di dalam pemerintahan indonesia ini tapi aku yakin tidak semua dari mereka se picik itu. Berkat mereka juga yang mengadakan BOS aku dan beberapa teman yang putus sekolah bisa melanjutkan sekolah.

Kadang aku sedih melihat beberapa temanku yang orang tuanya masih mau membiayai sekolah tapi mereka putus sekolah karena “MALAS” sungguh orang yang sangat merugi! Aku percaya banyak beasiswa dimana-mana asal aku mau dan berusaha mendapatkannya.

Kini hari ini ! aku akan melaksanakan upacara 17 Agustus di sekolahku yang baru, tidak di tahun sebelumnya aku melaksanakan upacara 17 Agustus di depan televisi melihat para prajurit paskibra di istana negara mengibarkan baendera, ahh betapa aku ingin juga seperti mereka! Dan aku ! Ahmat sekarang dengan harapan baru dan optimisme baru! Siap menjadi pahlawan di keluargaku! Terima kasih Indonesiaku kini bukan kau saja yang merdeka! Aku juga sudah MERDEKA mendapatkan pendidikan yang sama dengan teman-temanku. Terima kasih pahlawanku yang mengusir penjajah kini semua suku, dan semua kelas-kelas sosial bisa bersekolah. Dan aku pun sama dengan kalian menjadi PAHLAWAN dalam diriku memerangi rasa putus asa karena tak bisa bersekolah dahwa selalu ada jalan kalau aku mau mencari dan berusaha.

SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIAKU.

-selamat merayakan kemerdekaan indonesia-

iimaimee 🙂

terispirasi post pak bukik

gambar minjem disini

3

tentang keegoisanmu..

Secangkir mochacino dan aneka macam kue yang menghiasi mejaku di sudut pojok café..

Sambil memandang keluar jendela melihat butiran hujan yang jatuh kebumi.. aku melihat ada laki-laki paru baya sedang ngobrol di tengah hujan dengan wanita.. apa mereka sedang bertangkar? Tapi kemudian laki-laki itu meninggalkan si wanita.. yah terlihat seperti drama opera atau iklan sabun.. aku penasaran apa yang terjadi.. tapi sepertinya tak penting juga kufikirkan..

“hey…!!” suara itu mengejutkan lamunanku..

“hey.. kamu terlambat ..” wajahku berubah cerah seketika.. laki-laki ini selalu membutku mampu tersenym meski hatiku pilu..

“sudah dari tadi?”

“gak kog.. barusan juga kenapa tiba-tiba ingin bertemu?” tanyaku penasaran.

“aku sudah melamarnya..” kau angsung to the point. aku terkejut tapi tak ku tampakkan hanya melihat ke arahnya sambil meminum secangkir mochacinoku..

“bagus dong.. itu peningkatan.. kapan kamu menikah?”

“kamu gak cemburu?” pertanyaan yang sedikit membutaku bingung dengan hatinya..

“kenapa aku harus cemburu melihatmu bahagia? Aku bahagia apapun keputusan yang kamu ambil selagi itu baik untukmu..” aku harus bisa bahagia melihatnya bahagia.

“……” dia terdiam sambil meneguk secangkir coklat panas..

“apa kamu sudah melupakanku?” aku terkejut sambil bertanya-tanya “apa dia masih mencintaiku?”

“kenapa kamu bilang begitu? Kenyatannya kamu yang lebih dulu melupanku”

“jawab dulu pertanyaanku” menungguku bicara..

“entahlah.. aku tidak bisa menjabarkannya..” ku makan donat semabri memalingkan pandangan.. aku tak kuasa melihatnya..

“kalau aku masih mencintaimu bagaimana?” hatiku kembali bergemuruh.. kenapa tiba-tiba kau begini… kamu punya seorang calon diluar sana.. seorang wanita yang akan menunggumu pulang kerja dan memasakan makanan dan mencium tanganmu disetiap harinya.. kenapa?

“kenapa kau bicara seperti ini? Bagaimana dengan wanita itu? Apa kau tak mencintainya? Ingatkah kau.. kau meninggalkanku demi mengejar cintanya.. kenapa tiba-tiba kau bicara seperti ini?”

Kulihat kau menangis.. aku tak mengerti kenpa kau seperti ini.. kau sudah melamarnya betapa bahagianya dia dan orang-orang terdekatnya.. aku masih ingat betul bagaimana kau lebih memilihnya dan meninggalkanku. dua setangah tahun berlalu.. selama itu kenapa kau bisa berbicara seperti ini…

“aku ingin di hari pernikahanku kelak kau menjadi saksi..” mataku basah.. aku tak mampu menahan tapi aku harus bisa.. lalu kau teruskan bicara

“aku masih mencintaimu.. tapi aku sudah bersamanya.. perasaanku padamu hanya hilang sesaat.. masih kulihat sekarang kau masih sendiri dan tak membuka hati untuk oarang lain.. apa kau belum bisa melupakanku? Aku ingin adil.. aku juga ingin melihatmu bahagia dengan orang lain.. jujur aku ingin ada dihari-harimu lagi… kenpa kau masih sendiri.. sudah banyak laki-laki baik yang ku kenalkan ke kamu tapi kau masih tetap memilih sendiri..?”

Aku tak bisa bicara.. aku tak mau dia tahu apa yang sedang aku rasakan..

“aku masih ingin menikmati kesendirianku.. tak perlu khawatirkanku”

“jawab lah apa kau masih mencintaiku? aku bisa membatalkan semua asal kau masih mencintaiku dan kita bisa mulai dari awal lagi..”

masih sangat-sangat jelas aku mencintaimu.. meski kau jarang mampir di hari-hariku.. meski kau hanya singgah ketika bingung menghadapi wanitamu.. aku masih sering memandangimu dalam jarak teman dan mantan.. meski aku harus munafik setiap melihatmu bahagia.. tapi aku tak bisa.. aku tak mau wanitamu merasakan yang aku rasakan dulu.. dia mencintaimu lebih dari aku mencintaimu.. dia mampu membahagiakanmu labih dari aku.. aku tak bisa menyakiti perempuanmu dan orang banyak.. aku tak bisa menyakiti keluargamu dan keluarga perempuanmu beserta orang-orang terdekat kalian demi keegoisanku.. aku tak mampu melihat air mata kesedihan ketika kita bersama.. tuhan.. kuatkan aku..

“bagaimana bisa kau mencintaiku tapi telah melamarnya?? Tidak kah kau memikirkan bagaimana keluargamu nanti dengan keputusanmu ini? Bagaimana nanti keluargamu memandangku?? Tidakkah kamu egois? aku sudah melupakanmu.. aku sudah tak mencintaimu lagi..” aku harus tegas.. dan tak memberi harapan padamu..

“mungkin dulu aku terlalu tergesa-gesa melamarnya.. sungguhkah kau sudah melupakanku? Kau berbeda denganya.. entahlah hatiku mengatakan kamu dan kamu.”

tidak kah kau memikirkan jika kau memilihku kelak kau akan menyesal seperti ini? Kau hanya sedang bingung dengan wanitamu.. itu perasaan yang biasa terjadi jangan berpaling darinya.. hampir 3 tahun kau menjalin kasih denganya.. ini hanya godaan.. jangan kau lakukan hal yang membutmu menyesal nantinya.. aku sudah tak mencintaimu. Pergilah.. jangan hubungi aku lagi itu hanya akan membuatmu tak mantab..”

Hatiku gerimis.. mengiringi hujan diluar sana..

“bolehkah aku merindukanmu jika sudah menikah nanti?”

“jangan gila.. pergilah wanitamu sudah menunggu..!!”

Kulihat perlahan kau berlalu.. air mataku tumpah.. aku tak mampu membendungnya.. aku menangis sejadi-jadinya bersama hujan… menunggu hari bahagiamu datang dimana kulihat disana tak kan ada orang yang bersedih hati termasuk kamu.. aku harap dengan menjauhiku kelak perasaanmu bisa kembali seutuhnya kepadanya.. kupandangi lagi pintu itu.. kau sudah melewatinya..

“slahkah bila aku merindukanmu kelak”

lirihku.. air mataku masih terus berjatuhan.. ku coba minum mochacinoku ternyata sudah dingin.. sedingin hujan diluar sana..

tuhan.. semoga perasaanya kembali kepada wanitanya..