Pamrih

Sebuah quote dari antah berantah yang selalu saya percaya sejak dulu. Hingga akhirnya saya menyadari perspektif lain dari kalimat itu.

“Pamrih! Pamrih! Pamrih!”

Sadar atau tidak kita selalu melakukan hal baik agar orang juga belaku baik pada kita. Ya itu adalah hal yang aku yakini betul sejak masih remaja hingga menuju keremajaan yang abadi (yes, I’m immortal).

Quote itu membuatku menuntut agar diperlakukan sama seperti aku memperlakukan orang. Aku berlaku baik sebisa mungkin terhadap orang lain, hingga suatu hari hal baik tidak datang, justru sebaliknya!

Nasib : Kecewa?

me : iya!!

Nasib : Sedih?

me : Pasti!

Nasib : Merasa tidak dihargai?

me : Jangan tanya lagi!!

Nasib : Sukurin! Bodoh sih!

Karena quote manis itu aku berusaha mencari kesalahan dalam diri ini. “mungkin aku yang salah hingga diperlakukan seperti itu”. Sampai akhirnya aku lelah sendiri, dan terlalu menyalahkan diri sendiri juga tidak akan membantu apapun, yang ada hanyalah rasa tidak puas pada diri sendiri, dan penyesalan akan hal abstrak –hal yang tidak jelas-

“ya aku emang payah aja! mau apa lagi? Terima sajalah!” – Berusaha berdamai dengan diri sendiri.

Mungkin aku lupa dalam berlaku baik harusnya tidak pernah mengharapkan apapun. Kita tidak harus menjadi buruk untuk mendapatkan cobaan atau perlakukan buruk. Mungkin memang sudah saatnya menjalani ini.

“Lakukan hal baik karena kamu memang yakin itu adalah hal yang tepat! lalu ikhlaskan!” jika dunia berjalan tak sesuai dengan harapan?. Baca kembali paragraph akhir hingga jadi mantra.

Iklan