#IndonesiaJujur Jujur vs UNAS !

ketika tahu berita tentang Ny. Siami. Saya langsung tidak bisa berkomentar apa-apa.. saya mencoba bertanya pendapat ibu.. beliau bilang “yah mungkin guru-guru takut kalau muridnya tidak lulus ujian nasional” tapi saya cukup kaget betul.. kok anak SD udah di ajarin gak jujur ? karana ketika saya SD guru-guru tidak sama sekali membenarkan contek mencontek . mungkin karena waktu itu kelulusan masih di pegang sekolah jadi tidak berdasarkan nilai ujian nasional semata.

Sangat sulit menurut saya ketika kita harus jujur di lingkungan ketidak jujuran. Dulu saya punya teman sekelas dia pandai tapi pelit, ketika ujian dia susah sekali dimintai contekan tapi giliran dia yang mencontek seenaknya sendiri. Sampai akhirnya dia dijauhi teman-teman sekelas. Ada lagi teman saya dia lebih memilih membohongi teman-teman sekelas, ketika ujian dia dimintai contekan tapi dijawab dengan jawaban yang salah..

Semenjak saya SD, tidak mengenal contekan karena dilarang juga karena memang dosa! Guru tidak pernah membenarkan yang namanya contek mencontek, ngerpek dsb. Tapi ketika saya menginjak yang namanya SMP saya baru mengenal apa itu contekan. Guru sebenaranya tidak mengindahkan mencontek ketika ulangan harian, ulangan semester dan ulangan-ulangan lainya. beliau tidak pernah membenarkan. tapi ketika ujian nasional?? Mencontek sepertinya menjadi perbuatan halal karena membantu teman.. guru pasti juga tidak menginginkan ini, tapi karena tingkat kelulusan di nilai dari ujian yang hanya di adakan beberapa hari. padahal kita semua belajar 3 tahun lamanya. Ini yang membuat ketir-kerir para warga sekolah, saya juga demikian. Tahun sebelum saya lulus, tercatat 6 siswa tidak lulus dan mereka bukan dari kalangan murid bodoh atau nakal. Justru dari kalangan murid yang tergolong pintar. Bukan hanya saya saja yang takut dan nervous! semua kelas juga , tidak! tapi hanpir satu angkatan beserta wali murid. Ini lah, kondisi seperti inilah yang membuat jujur terasa sulit.

Ada tetangga saya dia pintar dan jujur, ketika ujian nasional dia tidak menginginkan bocoran dan mempercayai kemampuannya. Tapi hanya di hargai dengan nila total 25 dengan 4 mata pelajaran.. sedangkan yang curang nilainya 36 dsb ?? tetangga saya hanya menangis sepanjang malam karena tidak bisa masuk ke sekolah favoritnya.

Di tempat saya sekolah dulu menerapkan “lebih baik tidak naik kelas dari pada tidak lulus” Tapi kenapa masih banyak yang tidak lulus?? Bukan murid saja yang merasa GAGAL tapi guru-guru juga demikian, mereka GAGAL dalam mendidik murid mereka hanya gara-gara UJIAN NASIONAL !

UJIAN NASIONAL MENGAJARKAN KITA UNTUK TIDAK JUJUR. Begitu kata teman-teman saya. Saya juga setuju! Karna ketika ujian2 lainnya kita mampu untuk jujur..! tapi kenapa ujian nasional susah????

Jadi ketika kita mencoba jujur di dalam lingkunagan ketidak jujuran?? Kisah Ny. Siami adalah jawabanya!

 

Sekian postingan dari saya semoga bermanfaat dan maaf jika ada kata yang tidak menyenangkan.. maklum masih belajar. 🙂

 

Iklan

6 thoughts on “#IndonesiaJujur Jujur vs UNAS !

  1. Unas jadi sumber pembenaran atas ketidakjujuran. Jamanku juga ada contekan, tapi gak sampai dibenarkan atau melibatkan guru. Unas jadi pembedanya.

    Btw, postingan menarik! Jempol!

    • iap sama.. Malah dulu ketauan nyontek langsung di giring k bp.. Mungkin maksud gurunya pas unas saling kerja sama.. Tp ya jangan maksa..

      Trims.

  2. Ping-balik: #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran! | Bined

  3. hahaha aku Jaman SD noleh pas Ulangan ae gak wani Blas. SMP mulai nakal dengan menyonteki, gak onok sing iso dicontek. jaman SMK tambah walikane, ganti nyontek.

  4. Ping-balik: #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran! | Tolak Ujian Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s