6

#IndonesiaJujur Jujur vs UNAS !

ketika tahu berita tentang Ny. Siami. Saya langsung tidak bisa berkomentar apa-apa.. saya mencoba bertanya pendapat ibu.. beliau bilang “yah mungkin guru-guru takut kalau muridnya tidak lulus ujian nasional” tapi saya cukup kaget betul.. kok anak SD udah di ajarin gak jujur ? karana ketika saya SD guru-guru tidak sama sekali membenarkan contek mencontek . mungkin karena waktu itu kelulusan masih di pegang sekolah jadi tidak berdasarkan nilai ujian nasional semata.

Sangat sulit menurut saya ketika kita harus jujur di lingkungan ketidak jujuran. Dulu saya punya teman sekelas dia pandai tapi pelit, ketika ujian dia susah sekali dimintai contekan tapi giliran dia yang mencontek seenaknya sendiri. Sampai akhirnya dia dijauhi teman-teman sekelas. Ada lagi teman saya dia lebih memilih membohongi teman-teman sekelas, ketika ujian dia dimintai contekan tapi dijawab dengan jawaban yang salah..

Semenjak saya SD, tidak mengenal contekan karena dilarang juga karena memang dosa! Guru tidak pernah membenarkan yang namanya contek mencontek, ngerpek dsb. Tapi ketika saya menginjak yang namanya SMP saya baru mengenal apa itu contekan. Guru sebenaranya tidak mengindahkan mencontek ketika ulangan harian, ulangan semester dan ulangan-ulangan lainya. beliau tidak pernah membenarkan. tapi ketika ujian nasional?? Mencontek sepertinya menjadi perbuatan halal karena membantu teman.. guru pasti juga tidak menginginkan ini, tapi karena tingkat kelulusan di nilai dari ujian yang hanya di adakan beberapa hari. padahal kita semua belajar 3 tahun lamanya. Ini yang membuat ketir-kerir para warga sekolah, saya juga demikian. Tahun sebelum saya lulus, tercatat 6 siswa tidak lulus dan mereka bukan dari kalangan murid bodoh atau nakal. Justru dari kalangan murid yang tergolong pintar. Bukan hanya saya saja yang takut dan nervous! semua kelas juga , tidak! tapi hanpir satu angkatan beserta wali murid. Ini lah, kondisi seperti inilah yang membuat jujur terasa sulit.

Ada tetangga saya dia pintar dan jujur, ketika ujian nasional dia tidak menginginkan bocoran dan mempercayai kemampuannya. Tapi hanya di hargai dengan nila total 25 dengan 4 mata pelajaran.. sedangkan yang curang nilainya 36 dsb ?? tetangga saya hanya menangis sepanjang malam karena tidak bisa masuk ke sekolah favoritnya.

Di tempat saya sekolah dulu menerapkan “lebih baik tidak naik kelas dari pada tidak lulus” Tapi kenapa masih banyak yang tidak lulus?? Bukan murid saja yang merasa GAGAL tapi guru-guru juga demikian, mereka GAGAL dalam mendidik murid mereka hanya gara-gara UJIAN NASIONAL !

UJIAN NASIONAL MENGAJARKAN KITA UNTUK TIDAK JUJUR. Begitu kata teman-teman saya. Saya juga setuju! Karna ketika ujian2 lainnya kita mampu untuk jujur..! tapi kenapa ujian nasional susah????

Jadi ketika kita mencoba jujur di dalam lingkunagan ketidak jujuran?? Kisah Ny. Siami adalah jawabanya!

 

Sekian postingan dari saya semoga bermanfaat dan maaf jika ada kata yang tidak menyenangkan.. maklum masih belajar. 🙂

 

Iklan
6

memilih universitas seperti memilih pacar..

Selamat pagi blogger ..
Sedang mencoba kembali mengupas semangat menulis (aelah emang apel di kupas)
Akhir-akhir ini masih nganggur males-malesan di atas kasur sambil sesekali cari bacaan atau mainan hape -_-‘ (derita anak baru lulus) sambil merenung .. merenung “mau kulaih dimana??” akh…. Pertanyaan itu mengancam kebebasan otak-ku hiks :nangis
Sebenarnya milih itu gampang (kata salah satu teman saya)
“lha kok bisa ? susah tau..” mencoba tidak sepaham
“kan milih gak bayar..”
-___-‘ minggat sono ..

Mondar mandir dari kampus sini ke kampus sana dari univ ini ke univ itu. cuman untuk mencaari tempat peristirahatan *ehhhhhhh tempat peristirahatan tubuhku biar gak lari sana sini lagi…

Bener bener! milih kampus itu kayak milih pacar (heh kok bisa?)
lha kita harus cari yang sesuai hati.. minat, bakat..
kepaksa malah bikin nyesek, gak nyaman, trus putus deh! ya kan???? (aku harap banyak yang meng-“iya”-kan-nya)
Punya impian bisa sekolah di fakultas pisikologi tapi.. fakultas pisikologi disini (surabaya) yang bagus cuman di universitas yang bergengsi (baca: duit). Lagi pula orang tua dan sanak sudara pada memandang kurang menjual lah pisikologi itu di dunia kerja..
Semakin meng-galau..
Kata salah satu teman saya “cari dong beasiswa”
Hadeehh.. sudah kucoba tapi mungkin rejekiku gak disana..
Hanya mengandalkan SNMPTN yah semoga keterima saja disana..
Kalau ikut SPMB (test dalam univ) selain mengulur waktu lama juga keterimanya ngambang -_-, takut mengulur waktu lebih lama malah Univ swasta semakin mem-bengkak-kan biayanya.. “aaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk mamak pusing” *selonjotan*
Ibu mencoba menyondorkan beberapa brosur “perawat” bagus sih seberanya merawat orang sakit kan dapat pahala.. tapi kendalanya dari awal sekolah SMK aku terjunnya di bidang IPS.. harus ekstra keras untuk mengejar pelajaran..
yah semoga ikut tersaring dalam SNMPTN dengan jurusan yang benar benar aku minatin, selain meringankan beban(baca: duit), juga bisa semangat belajar (AMIN..!)
kalau gak keterima?? (setan mulai tanya) ahhhh SEMOGA KETERIMA !
Hanya mengandalkan doa saja.. semoga ALLAH SWT membaca postingan saya ini 😥
Apapun yang saya pilih kelak pasti ada penyesalan di baliknya.. itu yang nanti-nya membuat saya belajar ikhlas CEMUNGUDH..

Nb: Hahaha setelah sekian bulan gak ngeblog isi-nya beginian.. maklum lah sedang belajar 

Ima.. 18 tahun.. tukang angan angan di balik jendela..