3

tentang keegoisanmu..

Secangkir mochacino dan aneka macam kue yang menghiasi mejaku di sudut pojok café..

Sambil memandang keluar jendela melihat butiran hujan yang jatuh kebumi.. aku melihat ada laki-laki paru baya sedang ngobrol di tengah hujan dengan wanita.. apa mereka sedang bertangkar? Tapi kemudian laki-laki itu meninggalkan si wanita.. yah terlihat seperti drama opera atau iklan sabun.. aku penasaran apa yang terjadi.. tapi sepertinya tak penting juga kufikirkan..

“hey…!!” suara itu mengejutkan lamunanku..

“hey.. kamu terlambat ..” wajahku berubah cerah seketika.. laki-laki ini selalu membutku mampu tersenym meski hatiku pilu..

“sudah dari tadi?”

“gak kog.. barusan juga kenapa tiba-tiba ingin bertemu?” tanyaku penasaran.

“aku sudah melamarnya..” kau angsung to the point. aku terkejut tapi tak ku tampakkan hanya melihat ke arahnya sambil meminum secangkir mochacinoku..

“bagus dong.. itu peningkatan.. kapan kamu menikah?”

“kamu gak cemburu?” pertanyaan yang sedikit membutaku bingung dengan hatinya..

“kenapa aku harus cemburu melihatmu bahagia? Aku bahagia apapun keputusan yang kamu ambil selagi itu baik untukmu..” aku harus bisa bahagia melihatnya bahagia.

“……” dia terdiam sambil meneguk secangkir coklat panas..

“apa kamu sudah melupakanku?” aku terkejut sambil bertanya-tanya “apa dia masih mencintaiku?”

“kenapa kamu bilang begitu? Kenyatannya kamu yang lebih dulu melupanku”

“jawab dulu pertanyaanku” menungguku bicara..

“entahlah.. aku tidak bisa menjabarkannya..” ku makan donat semabri memalingkan pandangan.. aku tak kuasa melihatnya..

“kalau aku masih mencintaimu bagaimana?” hatiku kembali bergemuruh.. kenapa tiba-tiba kau begini… kamu punya seorang calon diluar sana.. seorang wanita yang akan menunggumu pulang kerja dan memasakan makanan dan mencium tanganmu disetiap harinya.. kenapa?

“kenapa kau bicara seperti ini? Bagaimana dengan wanita itu? Apa kau tak mencintainya? Ingatkah kau.. kau meninggalkanku demi mengejar cintanya.. kenapa tiba-tiba kau bicara seperti ini?”

Kulihat kau menangis.. aku tak mengerti kenpa kau seperti ini.. kau sudah melamarnya betapa bahagianya dia dan orang-orang terdekatnya.. aku masih ingat betul bagaimana kau lebih memilihnya dan meninggalkanku. dua setangah tahun berlalu.. selama itu kenapa kau bisa berbicara seperti ini…

“aku ingin di hari pernikahanku kelak kau menjadi saksi..” mataku basah.. aku tak mampu menahan tapi aku harus bisa.. lalu kau teruskan bicara

“aku masih mencintaimu.. tapi aku sudah bersamanya.. perasaanku padamu hanya hilang sesaat.. masih kulihat sekarang kau masih sendiri dan tak membuka hati untuk oarang lain.. apa kau belum bisa melupakanku? Aku ingin adil.. aku juga ingin melihatmu bahagia dengan orang lain.. jujur aku ingin ada dihari-harimu lagi… kenpa kau masih sendiri.. sudah banyak laki-laki baik yang ku kenalkan ke kamu tapi kau masih tetap memilih sendiri..?”

Aku tak bisa bicara.. aku tak mau dia tahu apa yang sedang aku rasakan..

“aku masih ingin menikmati kesendirianku.. tak perlu khawatirkanku”

“jawab lah apa kau masih mencintaiku? aku bisa membatalkan semua asal kau masih mencintaiku dan kita bisa mulai dari awal lagi..”

masih sangat-sangat jelas aku mencintaimu.. meski kau jarang mampir di hari-hariku.. meski kau hanya singgah ketika bingung menghadapi wanitamu.. aku masih sering memandangimu dalam jarak teman dan mantan.. meski aku harus munafik setiap melihatmu bahagia.. tapi aku tak bisa.. aku tak mau wanitamu merasakan yang aku rasakan dulu.. dia mencintaimu lebih dari aku mencintaimu.. dia mampu membahagiakanmu labih dari aku.. aku tak bisa menyakiti perempuanmu dan orang banyak.. aku tak bisa menyakiti keluargamu dan keluarga perempuanmu beserta orang-orang terdekat kalian demi keegoisanku.. aku tak mampu melihat air mata kesedihan ketika kita bersama.. tuhan.. kuatkan aku..

“bagaimana bisa kau mencintaiku tapi telah melamarnya?? Tidak kah kau memikirkan bagaimana keluargamu nanti dengan keputusanmu ini? Bagaimana nanti keluargamu memandangku?? Tidakkah kamu egois? aku sudah melupakanmu.. aku sudah tak mencintaimu lagi..” aku harus tegas.. dan tak memberi harapan padamu..

“mungkin dulu aku terlalu tergesa-gesa melamarnya.. sungguhkah kau sudah melupakanku? Kau berbeda denganya.. entahlah hatiku mengatakan kamu dan kamu.”

tidak kah kau memikirkan jika kau memilihku kelak kau akan menyesal seperti ini? Kau hanya sedang bingung dengan wanitamu.. itu perasaan yang biasa terjadi jangan berpaling darinya.. hampir 3 tahun kau menjalin kasih denganya.. ini hanya godaan.. jangan kau lakukan hal yang membutmu menyesal nantinya.. aku sudah tak mencintaimu. Pergilah.. jangan hubungi aku lagi itu hanya akan membuatmu tak mantab..”

Hatiku gerimis.. mengiringi hujan diluar sana..

“bolehkah aku merindukanmu jika sudah menikah nanti?”

“jangan gila.. pergilah wanitamu sudah menunggu..!!”

Kulihat perlahan kau berlalu.. air mataku tumpah.. aku tak mampu membendungnya.. aku menangis sejadi-jadinya bersama hujan… menunggu hari bahagiamu datang dimana kulihat disana tak kan ada orang yang bersedih hati termasuk kamu.. aku harap dengan menjauhiku kelak perasaanmu bisa kembali seutuhnya kepadanya.. kupandangi lagi pintu itu.. kau sudah melewatinya..

“slahkah bila aku merindukanmu kelak”

lirihku.. air mataku masih terus berjatuhan.. ku coba minum mochacinoku ternyata sudah dingin.. sedingin hujan diluar sana..

tuhan.. semoga perasaanya kembali kepada wanitanya..