1

Listening to Angel by Sarah McLachlan

Suatu sore dengan kondisi hujan yang tak kunjung reda dan banjir di beberapa titik. Dengan kondisi begitu lupa bawa dompet, dan bensin habis.

ūüĎß : mas bensin 8rb boleh?
ūüĎ® : boleh mbak, kenapa kok nggak sekalian 10rb saja?
ūüĎß : adanya cuman segini mas *sambil nyerahin duit 2000 basah dan lecek 4lembar*

-menunggu beberapa saat, dan mesin berhenti di angka 10rb-

ūüĎß : loh mas kok 10rb? Aku utang dong.
ūüĎ® : gak usah mbak, gakpapa. Buruan mbak di belakang antri.
ūüĎß : *menatap terharu dan pengen peluk kepada mas mas pom bensin yg usianya mungkin masih belasan tahun*
Pulang ke rumah dengan perasaan pengen nangis haru :’
Selalu bersyukur di pertemukan dengan orang-orang baik seperti ini. :’)

Listening to Angel by Sarah McLachlan

Preview it on Path

0

Pada Suatu Malam

image

Terbangun kamu dari mimpi buruk tengah malam, mendapati mata yang becek dan suara kipas angin tua yang memecah keheningan.
Kau cari tisyu, selimut atau apapun yang bisa menyeka air matamu yang tidak bisa berhenti saat itu juga.

Kamu mulai dihantui lagi oleh sosoknya yang bahkan seperti tak punya hati memintamu memikirkan sendiri masalahnya.

Kamu mulai dihantui lagi oleh kenang-kenangan pahit yang dia rajut sangat rapi saat dia menciptakan jarak.

Kamu mulai di hantui lagi kegelisahan yang akan membuyarkan usahamu memahami dia lebih baik.

Kadang kamu berfikir untuk singgah dirumah orang lain, menangis sejadi-jadinya, kemudian pergi begitu saja.

Kadang kamu ingin pergi jauh dan berharap semesta menelanmu bersama pil pahit yang kamu alami.

Tak ada bahagia yang kekal. Semua berubah-ubah, bahkan bisa saja hilang, bahagiamu tak terkecuali.

Kamu sadar ini bukan pertama kalinya kamu menangisi sosoknya, meminta kepastian darinya, dan ingin angkat kaki dari rumahnya. Tapi hati kecilmu meminta pada sebagian egomu yang masih mendambanya untuk singgah sebentar siapa tahu dia akan pulang, dan berubah.

Akan tetapi hati kecilmu tak bisa berbohong, dia lelah akan semua yang sudah kamu ketahui akan sia-sia .
Kamu mengasihaninya karena begitu keras kepala mencinta sosok yang bahkan lebih kejam dari bagian hidupnya yang lain.

Kenangan pahit itu selalu datang setiap malam, memintamu memikirkan masa depan, memikirkan kebenaran, dan memikirkan kebaikan.

Kenangan pahit itu selalu datang setiap malam, menagih keadilan yang sudah kamu bayarkan dengan usaha menunggunya setiap malam, seperti malam ini.

Kenangan pahit itu selalu datang setiap malam, memaksamu berhenti memikirkan kebahagiaan bersamanya atas nama realitas.

Kenangan pahit itu selalu datang setiap malam, menuntut bayaran atas apa yang kamu lakukan untuk selalu ada untuknya.

Kenangan pahit itu selalu datang setiap malam, membawa tumpukan bukti agar hati kecilmu menyerah pada kebenaran yang sesuangguhnya, dan menggoyahkan keyakinanmu untuk tetap bersamanya.

Kenangan pahit itu selalu datang menertawakan, atau menangisimu karena begitu keras kepala. Bahkan terlalu keras kepala menjadi wanita yang bodoh di depannya. Iya, di depan dia yang tak pernah menganggapmu ada sebagai anugerah tuhan.

Kamu ingin dia menganggapmu sebagai rumahnya, atau ‘kita’ yang kau sebut adalah rumah kalian berdua, namun pedih kamu dapati hanya dianggap sebagai kontrakan -rumah sementara yang akan dia tinggalkan sewaktu-waktu-. Mungkin dia masih singgah karena memang dia masih punya urusah dengan hatimu.

Betapa kamu selalu mendoakan yang terbaik untukmu tanpa dia kepada tuhan, betapa kamu selalu mendoakan agar tidak ada kegagalan untuk kesekian kalinya.

Namun bayangan buruk yang selalu datang setiap malam seperti hantu sirna seketika saat dia datang dan memintamu tinggal atas nama ‘kita bisa perbaiki semua’.

Pikirkan lagi bayangan itu akan menggerogoti semua saat tengah malam tiba bersama air mata dan keheningan malam yang pecah karena suara kipas angin tua setiap harinya.

Aku adalah mimpi burukmu yang diciptakan olehnya untuk menagih keadilan.

Mimpi buruk – 1 Desember

Terinspirasi dari surat yang tak pernah sampai karya dee lestari.

0

Ada hal yang tidak bisa dikatakan pada hujan

Ada hal yang tidak bisa dikatakan pada hujan, tentang rindu yang di ikat oleh angin, dan dibiarkan terbang semaunya, tentang cinta yang tidak bisa disebut lagi namanya karena terlukai oleh waktu.
Ada hal yang tidak bisa dikatakan pada hujan, bagaimana kuatnya menunggu dalam ketidak pastian, bagaimana keyakinan perlahan pudar karena waktu yang tidak akan pernah bisa menunggu.
Ada hal yang tidak bisa dikatakan pada hujan, seperti apa rupa sosok yang dirindukan dalam diam, serta seperti apa kamu mampu bertahan karena waktu yang berlari terlalu kurang ajar.
Ada hal yang tidak bisa dikatakan pada hujan akan keheningan yang merampas satu persatu harapan, akan waktu yang tidak bisa bertoleransi pada sabar, akan tuhan yang menuntunku pada jalan yang lain, jalan yang tidak ada lagi kamu.
Ada hal yang tidak bisa dikatakan pada hujan, bagaimana melupakan menjadi sangat sulit, saat rindu ingin pulang pada rumah yang bukan lagi miliknya. Rumahku yang kini menjadi rumahnya.
Ada hal yang tidak bisa dikatakan pada hujan, ketika smesta memutuskan kita untuk berjalan pada takdir yang berbeda. berjalan pada waktu yang sama namun dengan genggaman yang tak lagi sama.
Aku, kamu, dia, dan semesta. Hujan mampu membasahi semesta yang kekeringan. Tapi air mata hanya akan membanjiri kenangan.

Pelukku untuk kita yang tidak lagi sama.

0

Surat yang tak pernah sampai

Filosofi kopi karya Dee ini aku pernah membaca beberapa bab, dan aku langsung jatuh cinta pada puisi “spasi”. Dee pandai sekali merangkai kata-kata menjadi sangat memilukan tapi itu menyenangkan. Reuni dengan luka itu menyenangkan ketika hidup sudah penuh dengan kebahagiaan. untuk apa? supaya kita bisa sesekali mengingat dan belajar agar tidak terjadi luka yang sama.

namun kali ini aku tidak membahas tentang puisi “spasi”nya Dee, melainkan aku akan reuni sekali lagi pada buku yang pernah saya baca ini, tentang bab yang tidak kalah memilukannya. Ketika membacanya aku serasa menjadi kamu dalam surat ini, dan aku yakin setiap pembaca surat ini juga akan merasakan hal yang sama, entah itu sesuai dengan salah satu kisah hidupnya atau bukan.

surat ini tidak pernah sampai, karena surat ini juga tidak pernah terkirim. jadi mari kita berjalan-jalan pada luka orang lain sejenakūüôā

“Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada diri kamu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebeblas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam…

tentang dia.

            Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak mendekati gila, menertawakan kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap, dan abu dari benda-benda yang dia hanguskan—bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila—berterbangan masuk ke matanya. Semoga dia pergi dan tak menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan jauh lebih mudah.

            Namun, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kali sekian, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian, mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudera tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala.. dan itulah tujuan kalian.

            Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

            Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.

            Akan tetapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.

            Kamu takut. Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tetapi kamu cemas. Kata ‚Äúsejarah‚ÄĚ mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali. Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tetapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tetapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.

            Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai sang Kekasih Impian, sang Tujuan, sang inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling tolerasni atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak boleh Sia-Sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.

            Lama, baru kamu menyadari bahwa pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

            Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian hadapi bersama?

            Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tampa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

            Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan. Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu entah kapan dan kenapa. Cinta sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan, karena cinta adalah mengalami.

            Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup bukan cuma maskot untuk disembah-sujud.

            Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

            Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan dia berikan kini.

Hingga akhirnya…

            Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip sehingga cuma kamulah yang tersiksa?).

            Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

            Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.

            Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.

            Sampai pada satu halaman kedua suratkmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengan memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

            Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkan bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputskan bersama.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ‚Äėjangan‚Äô yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

            Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

            Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu.

           Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, dan tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

            Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, bintang selatan yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu, untuk akhirnya, menemuiku.

            Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta kepadamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.

ahhh aku suka sekali, karena Dee mampu merajut satu persatu kesakitan yang membuat kita cepat-cepat sadar dan ingin bangkit segera. aku suka membaca kisah-kisah yang seperti ini karena bisa sesekali menikmati kisah lain tanpa harus terjun langsung.

0

Bab akhir

Bacalah saat kamu sudah tidak lagi mengingatku.

Ini fase dimana semesta sekali lagi memintaku lebih sabar, dan lebih banyak belajar sendirian.

Mungkin sudah habis masa dimana kita belajar bersama akan hal hal ya remeh temeh atau yang besar sekalipun.

Aku sekarang mulai mengerti alasan kenapa kita dipertemukan, ya untuk saling belajar satu sama lain. Tapi maaf mungkin aku yang lebih egois disini aku hanya belajar banyak darimu. Tentang bagaimana harus kuat dan semangat ketika dalam keadaan seburuk apapun.

Aku berusaha sebaik yang aku bisa bahkan saat aku dalam keadaan tidak baik-baik saja. Karena aku mencoba berusaha untuk selalu ada saat kau lelah dan butuh teman berbagi beban.

Namun maaf sekali lagi atas keegoisanku, aku bukan orang yang pandai mengendalikan emosi aku hanya bisa menutupinya dengan berpura-pura. Tapi percayalah semarahnya aku, ketika kamu berduka aku yang paling bersalah. Meski tidak bisa menghapus sesal aku punya segudang pelukan untuk menenangkanmu, atau tepukan pundak yang aku harap bisa membangun kembali kuatmu.

Tak hanya itu, aku belajar banyak darimu bagaimana ketika janji harus tetap ditepati. Dan bagiamana memahami perasaan laki-laki. Yah aku minta maaf karena aku sudah lupa bagaimana cara menepati janji saat itu juga, jadi tuntun aku karena aku ingin belajar lagi.

Kita tidak hanya belajar saja karena seperti katamu belajar itu membosankan, jadi kita kadang menertawakan hal-hal yang bahkan ketika orang lain lihat tidak lucu. Tapi kamu tau, kamu mengajarkan dan mengingatkan kembali akan hal-hal yang sudah aku lupakan.. Menikmati kebahagiaan bersama lebih nikmat daripada menikmatinya sendirian. Lucu ya, menurutku itu keren.

Aku sudah banyak lupa bagaimana rasanya duduk dan ngobrol berjamjam dengan orang yang disuaki itu sangat mengasikan. Kadang sesekali aku menyebalkan atau kamu yang menyebalkan dan berakhir dengan perdebatan, saling diam dan pelukan lagi.

Aku tidak ingin terlalu diprioritaskan olehmu karena aku tau kamu masih punya mimpi yang belum bisa tergapai satu-satu. Jadi aku hanya sekedar meminta untuk diingat dalam jeda kesibukanmu. Dan saat mimpimu kembali sulit diraih aku hanya menunggumu sampai kamu siap berbagi.

Tapi kamu tau, ketika aku juga sedang dalam keadaan duka aku juga butuh seseorang untuk menenangkanku bukan mendebatku. Maaf sekali lagi atas nama keegoisanku yang tidak patut menuntut apapun darimu.

Ketika aku terlalu asik dan terlalu banyak inginnya aku lupa kertas dalam buku ini akan habis bahkan terlalu banyak hal membahagiakan hingga aku lupa menyisipkan cerita perpisahan di bagian akhir ini. Mungkin bagimu itu epic, cerita yang menggantung itu epic. Tapi tidak menurutku.

Namun semesta sudah tidak memberikan toleransi selembar halaman kosong untuk kuceritakan bagaimana akhir dari pertemuan takdir ini. Maka akan kututup buku ini dengan doa.
Aku hanya merasa bangga sempat diperlakukan istimewa oleh seorang laki-laki yang bahkan aku tak punya hak atas dirinya.
Terimakasih sudah banyak mengajariku tentang arti sebuah kesabaran.

Jika kamu masih mengingatku percayalah ini semua hanya fiksi.

Untukmu november yang lebih dari suka cita.ūüėÄ

0

Di Antara Kita

“Karena setiap kali aku¬†merindukanmu, aku harus lekas pulang pada rumahku, menumbangkan harapan, atas nama tahu diri.” Suka sekali bagian ini.

Falen Pratama

tumblr_mdn9cq8ZcE1rpwekoo1_1280

source: tumblr

Saat malam masih rendah, aku bersembunyi dari lomba lari yang diselenggarakan debar jantung.
Sebab, aku ingin menceritakan sebuah hal tentang kamu dan rasa-rasa yang menjadi frasa atas ketegangan tiap nadi yang berdenyut untuk cahaya senyummu.

Engkau, pada mulanya seperti sebuah pelangi, dan aku seorang penerjemah payah yang tuna netra. Aku mencoba memahamimu dengan semua kemampuanku memahami warna tanpa harus lancang menikmati keindahanmu. Dan, entah pada hari apa, dan entah kenapa aku merasa sebuah jarak ganjil antara kita lewat ketinggianmu yang tak bisa kuraih.

Aku pernah membayangkan kita menikmati pemandangan bahagia dari sayap semesta tanpa harus bersama. Karena setiap kali aku merindukanmu, aku harus lekas pulang pada rumahku, menumbangkan harapan, atas nama tahu diri.

Pada akhirnya, kau hanya harus tau sebuah hal tentang aku; seseorang yang mengangankanmu menginginkanku. Sebelum luka tercipta di antara kita lewat waktu, mungkin ada baiknya aku berdoa saja untuk cahaya senyummu lalu pergi.

… Karena malam telah meninggi dan denyut jantungku perlahan berhenti.

Bertukar flash…

Lihat pos aslinya 13 kata lagi